01 Feb 2017 04:00

#MahakaryaAyahIbu: Memandang Langit Kenangan dan Pelajaran Hidup Ayah Ibu

keluarga kokoh

pexels.com

SHARE:

Oleh: Andhika Dewantara

 

Tuhan, terima kasih telah engkau anugerahkan ayah dan ibu yang begitu sempurna bagiku.

Terima kasih  pula telah mengizinkanku untuk merasakan kasih sayang mereka sampai saat ini.

Apa kenangan terindah dan tak terlupakan bersama ayah dan ibumu?

Mendengar pertanyaan tersebut aku pun terdiam sejenak mengingat-ingat kenangan indah yang telah  kulalui bersama ayah dan ibuku, lalu kuputuskan untuk mengakhiri  lamunanku dan menjawab, ”Bagiku setiap detik bersama ayah dan ibuku adalah hal yang terindah”. Tak peduli apapun perlakuan dan sikapku terhadapnya, beliau berdua akan selalu hadir di sisiku dan terus berusaha untuk membuatku bahagia selamanya, sungguh kasih sayang mereka merupakan mahakarya kokoh tak tertandingi dibanding apapun di muka bumi ini.

Setelah aku pulang kerumahku akupun memilih duduk dan merenungi pertanyaan itu di depan kamar, sambil memandang langit yang gelap dihiasi bintang-bintang berkilauan. Duduk menatap langit gelap yang tanpa batas ini membawaku kembali menelusuri jejak-jejak yang telah kulalui. Ketika lamunan itu membawaku jauh menapaki masa kecilku di kampung halaman, sepasang wajah paruh baya tak bisa lepas dari benakku. Ayah dan ibuku memang mengisi sebagian besar memori masa kecilku.

Beliau berdua merupakan anugerah terbesar bagiku. Meski aku terlahir di keluarga yang tidak berkecukupan, aku tak pernah merasa kurang dengan kasih sayang dan perhatian yang diberikan. Bagi ayah dan ibuku, masa depanku adalah segalanya, adalah cita-cita besar dalam hidup mereka untuk mengantarkan aku menjadi orang yang sukses di kemudian hari.

Hal tersebut bukan hanya sekadar kata tapi telah dibuktikan dengan perjuangan mereka. Beliau berdua berjuang keras  tanpa kenal waktu untuk mewujudkanya. Pagi hari beliau berdua pergi mengajar di sekolah  hingga sore hari dan akhir pekan beliau berdua harus mengajar les privat demi mencukupi kebutuhan keluarga. Mengingat hal tersebut aku tersadar akan banyak anak yang tidak seberuntung diririku, dan betapa berdosanya aku jika lupa bersyukur atas karunia yang diberikan tuhan yang maha esa ini.

Menatap langit di waktu malam adalah kebiasaan ayah dan ibuku. Selepas makan malam ketika aku sedang belajar, beliau berdua memilih menatap langit daripada menonton televisi, ditemani dengan suara radio yang melantunkan tembang jawa dan keroncong. Entah apa saja yang mereka perbincangkan, tapi yang kutahu pembahasan tentang masa depanku kelak menjadi topik yang tak pernah usai mereka perbincangkan.

Di kala aku bergabung dengan mereka, Ayah dan Ibu selalu menceritakan masa kecil mereka yang susah. Makan seadanya, Sekolah hanya dengan sepasang baju dan sepatu yang robek, dan kisah-kisah menyedihkan lainya. Hal itulah yang selalu membuatku merasa termotivasi dan bersemangat dalam menjalani hidup.

Menurut ayah dan ibu, seorang anak seharusnya lebih sukses dari orangtuanya. Generasi penerus harus lebih baik dari generasi sebelumnya. Dan keberhasilan orang tua dicapai ketika mampu untuk menjadikan anaknya sukses melebihi diri orang tuanya. Jika tidak mampu melebihi, cukuplah dengan menyamai kesuksesan orangtuanya, baik dalam konteks pendidikan maupun kelayakan hidupnya.

Saat aku tamat SMA dan lulus tes masuk di Universitas Negeri, ayah dan ibu memanggilku duduk menemaninya menatap langit.  Aku berpikir tentu beliau berdua akan berkeluh kesah dengan perjuanganya yang berat memenuhi biaya kuliahku nanti. Namun beliau berdua tak menyampaikan itu, mereka justru berkata,”Nak Ayah dan Ibu berharap kamu sukses mengejar cita-citamu. Tak usahlah kau berpikir untuk membalas yang kami lakukan untukmu. Bagi Ayah dan Ibu, hidup seperti ini sudahlah cukup dan kami mensyukurinya.”. Mendengar hal itu aku hanya mengangguk  tanpa berkomentar sedikitpun.

Setelah 12 tahun menghabiskan waktu jauh dari ayah dan ibu untuk belajar berbagai hal,aku akhirnya tersadar bahwa anugerah terindah bagiku adalah saat tuhan menjadikan ayah dan ibu menjadi tempatku untuk tumbuh dan berkembang hingga kini aku beranjak dewasa. Ayah dan Ibu, engkaulah mahakarya kokoh tak tertandingi yang diciptakan tuhan untuk membimbingku menuju jalan kebenaran dan kesuksesan. Aku berjanji akan menjadi seseorang yang berguna dan berbakti bagi keluarga dan juga bangsaku.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.


"Bagikan artikel ini dengan keluarga Anda"

Sosial Media

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Juara 1 Lomba Foto Ekspresi

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:20

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:19

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:18

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali