01 Feb 2017 03:00

#MahakaryaAyahIbu: Pengembara Akan Pulang Jika Mendapat Apa yang Dicari

keluarga kokoh

Doc. Pribadi

SHARE:

Oleh: Hilyatul Asfia

 

Kondisi kehidupan mengharuskan aku untuk merantau, sebagai salah satu bentuk perwujudan penghambaan diri dalam menggapai mimpi. Aku ketahui, banyak ulasan terkait pencapaian yang digapai oleh pihak yang namanya terpantenkan dalam sebuah buku mengisahkan bagaimana perjuangan untuk meraih hal tersebut, lika-liku kehidupan, dikisahkan secara eksplsit bahkan seolah diramu.

Aku mencoba berpikir apa yang mereka kisahkan itu adalah manifestasi sutradara Tuhan untuk kisah hambanya dan bukan sebuah romansa buatan drama korea yang dikisahkan kawan sebayaku. Aku mengikuti apa yang diajarkan oleh nama yang terpaten dalam buku tersebut, dan setiapkali aku kehilangan semangat akan kubaca lagi, seterusnya untuk sebuah ramuan mantra yang sebenarnya kudengar dahulu.

Betapa indah dan bahagia hidup yang kurasa tuhan menjatuhkanku dalam ritme kehidupan dengan jalan tanjakan tanpa ada penurunan. Menempatkanku pada mereka yang memberikan kasihnya oleh yang Maha Pengasih. Kita mengenalnya dengan sebutan “Ayah dan Ibu”, Aku akan mengisahkan mereka agar kalian dapat memahami keberlanjutan kisah pada diriku.

Ayah seorang sosok agamis bukan hanya dari sudut pandang intern namun ekstern. Di lingkungannya beliau memang dihormati, dijadikan pemimpin dalam peribadatan, dan penasehat di waktu perkumpulan. Apakah ayah menghendaki pencapaiannya saat ini? Jawabnya tidak, aku tidak ingin berkisah terhadap kalian penikmat realita dengan pembohongan rentetan kata.

Ayah mengajarkan bagaimana sejatinya hidup adalah mencari ridha tuhan. Segala bentuk penetapan takdir, diatur oleh yang Maha Mengatur. Inilah implementasi kehendak Ilahi yang memang tidak dapat dibatasi, dan inilah pelajaran hidup yang seyogianya patut untuk dipelajari.

Sosok ayahku sangat berbeda dan aku bangga mengatakannya, ayah mengajarkan bahwa hidup tidak menempatkan pelaksanaan berbanding namun tegak lurus. Misalnya saja, ketika paradigma dipandangan orang bahwa kita perlu mendapatkan hiburan diwaktu weekend, rumus umum yang diketahui, tapi ayah tidak menempatkan hal tersebut dalam ajaran keluarga.

Sudut pandang dari nurani ayah selalu mengatakan, tidakkah anakku berpikir bahwa ketika bersenang-senang kita lupa akan pihak lain? Akan keluarga kita di sana yang tidak dapat menikmati? Mereka yang tidak ditakdirkan untuk mengalami keadaan itu? Mungkin, sebagian orang beranggapan itulah konsekuensi. Tapi, tidak demikian bagi ayah. Bagaimana ayah menempatkan perasaannya dibawah perasaan orang lain.

Ibu sejatinya memang tidak luput dari ungkapan kasih ibu sepanjang masa, pengorbanan beliau baru kusadari ketika beranjak dibangku SMA. Ibu itu penuh dengan kasih sayang, karena diciptakan oleh Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Ketika ibuku pulang dari rutinitasnya melakukan kegiatan perkumpulan, pengajian, tentulah akan ada oleh-oleh yang dibawa, walau hanya kotak makan bertuliskan padang yang teramat istimewa bagi kami dengan perbandingan hanya tempe setiap hari.

Aku tahu ibu belum makan waktu itu, tapi adikku meminta kotak makan, dan tidak mungkin orang tua menolak terutama Ibu! Seketika itu, aku sadar apa yang kulakukan dibelakang hari tidak pantas, bahkan tidak cocok, perlakuan itu dilakukan oleh anak belasan tahun sepertiku! Tetapi Ibu tetap meridhoinya karena kasih sayangnya yang tak lekang dimakan zaman.

Kepulangan itu akan kita rasakan jika mengalami yang namanya kepergian. Ketika matahari mulai meringsut naik, aku telah memasuki kawasan riuh-pikuk dengan koper yang bertindihan disekitar. Keberangkatan kendaraan terbang terlalu pagi intervalnya membuat ayah ibu kewalahan mengejar waktu yang tidak akan berputar balik. Tidak banyak kata, tidak ada pelukan. Hanya kecupan dariku kepermukaan kulit yang mulai kasar, dan mengerut. Setelahnya ayah lantas mengajak ibu pergi. Mereka beranjak pergi tanpa kusadari saat itu adanya linangan air mata yang harus kuganti dengan senyuman lebar dikepulanganku.

Aku berjanji menanamkan pada diriku jangan pernah untuk melunturkan kepercayaan orang tua. Kawan, penuh sekali mantra hidup memenuhi kamarku dari  pintu masuk aku akan ditanya “What Your Story Today?” jangan kembali karena hakikat perantau adalah pengembara, tidak akan pulang sebelum mendapati apa yang dicari dengan begitu aku akan menghasilkan Mahakarya bagi ayah dan ibuku, yang kokoh dan tak tertandingi.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.


"Bagikan artikel ini dengan keluarga Anda"

Sosial Media

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Juara 1 Lomba Foto Ekspresi

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:20

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:19

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:18

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali