01 Feb 2017 02:00

#MahakaryaAyahIbu: Yang Tertinggal dari Kisah Kita

keluarga kokoh

vesti.ru

SHARE:

Oleh: Megi Kahlasi

 

Tahun 2007 adalah tahun awal dimana kami sekeluarga dididik oleh kehidupan tentang arti kebersamaan. Tahun dimana istri dan ibu kami tercinta mulai jatuh sakit. Diawal sakitnya kami tidak pernah berpikir kalau penyakit itu akan perlahan-lahan melemahkan tubuhnya dan membatasi kebebasan kami sekeluarga.

Ibu yang seorang pensiunan PNS dengan segala kesibukkannya semasa aktif, perlahan-lahan mulai hilang kepercayaan atas dirinya. Tembok kokoh rumah yang dibangunnya bersama bapak menjadi tameng akan rasa mindernya terhadap lingkungan sekitar. Dimulai dengan hilangnya keseimbangan ketika hendak duduk, Berlanjut lagi ia yang makin sering terjatuh entah itu di kamar mandi maupun di dalam kamar.

Kepercayaan dirinya makin menurun. Berlanjut lagi ke kakinya yang mulai terasa kaku untuk dijalankan. Menjalar lagi ke tangannya yang mulai ikutan kaku untuk digerakkan. Lidahnya pun mulai ikut-ikutan malas untuk digerakkan. Sesendok air  untuk ukuran sendok teh sekalipun susah untuk dicerna apalagi sesendok nasi.

Penyakit itupun terus menggerogoti tubuhnya. Dari yang berjalan tertatih-tatih hingga hanya terbaring sepanjang hari, dari yang lancar menasehati dan memarahi kami hingga isyarat genggaman ketika mengiyakan apa yang kami tanyakan. Hampir 7 tahun ibu berperang melawan penyakitnya hingga pada tanggal 06 mei 2013 pukul 22.00 wita ibu mengakhiri perangnya dengan kedamaian diantara kami sekelurga.

Pelajaran hidup yang bisa saya ambil dari cerita perjuangan ibu melawan sakitnya ini adalah:
Ibu

Ditengah pergelutannya dengan penyakit, harapannya tak pernah padam. Pernah disaat liburan, saya pulang kerumah bersama seorang teman saya. Malam disaat kami tidur, teman saya bercerita kalau siang tadi dia sempat bercakap-cakap dengan ibu ketika saya sibuk memasak dibelakang (singkat cerita saya adalah satu-satunya anak cewek didalam rumah, semua kakak saya adalah laki-laki, dengan sakitnya ibu, mau tak mau saya yang harus menggantikan perannya di rumah untuk memasak, mencuci dan membersihkan rumah).

Di tengah percakapan mereka tersebut, ibu sempat mengeluh kepada teman saya dengan suara yang sudah mulai tersendat-sendat akibat lidah yang mulai kaku kata ibu: “Saya sangat pikiran dengan keluarga saya, saya sudah sakit-sakitan seperti ini, siapa yang akan mengurusi makan, pakaian dan rumah ketika saya tidak ada lagi? dan ini membebani pikiran saya”.

Kalimat keluhan ini saya cerna secara mendalam. Ibu yang sudah berumur dengan penyakit stroke ini masih saja merisaukan suami, anak-anak dan rumahnya. Ini merupakan kegelisahan lazim dari seorang ibu, dan ini yang menjadi dorongannya untuk bertahan  melawan sakitnya selama 7 tahun. Pertahanannya menyatukan kami untuk saling menguatkan dan berjuang habis-habisan untuk mempertahankan hidupnya.

Kami saling bertukar pikiran dan waktu untuk pengobatan dan pendampingan terhadap ibu. Bagi orang yang menderita stroke, 7 tahun itu adalah waktu yang sangat lama ketika beberapa kenalan kami yang juga menderita stroke namun dalam hitungan 2-3 tahun saja mereka harus mengangkat bendera atas penyakitnya. Namun tidak dengan ibu, dia tetap menguatkan dirinya, harapannya untuk bertahan demi memastikan kalau kami terutama saya (anak gadisnya) dan bapak benar-benar sudah siap ditinggal dengan segala tugasnya sebagai seorang ibu yang harus kami gantikan.

Ibu tepat menghebuskan nafasnya ketika saya dengan lantang berbisik kepadanya: “Mama, saya sudah siap menggantikan posisi mama. Saya sudah siap untuk mengurus bapak dan rumah kita. Jika memang mama sudah lelah memikul beban ini, pergilah dalam damai, karena waktu dan kondisi mama selama 6 tahun ini sudah cukup membentuk saya untuk bisa diandalakan dalam rumah kita”.

Seorang ibu takkan akan pernah berhenti mencemaskan keluarganya walaupun diujung derita penyakitnya. Dan ini menjadi bekal pelajaran  bagi saya ketika Tuhan sudah mempercayai saya untuk membentuk sebuah rumah tangga.

Ayah

Ayah saya seorang laki-laki yang cukup kekar diusianya kala itu 60-an tahun. Kegemarannya berolah raga, menjadikanya tetap bugar diusia senja. Ia masih kuat untuk mencari “jajanan” di luar ketika ibu sudah tak mampu melayaninya karena sakit yag dideritanya, namun tidak untuk ayah saya. Ia tetap setia mendampingi ibu saya dalam memerangi penyakitnya.

Setiap pagi, Ia melatih ibu saya menggerakkan kaki dan tangan, memandikan ibu, meyisir rambutnya, membawanya pergi berobat, mengajak ibu makan bersama di meja makan keluarga tanpa perduli makanan berserakkan diatas meja bahkan terkadang tersembur makanan dan air kewajahnya akibat pencernaan yang tidak stabil dari tenggorokkan ibu karena lidah yang mulai kaku. Ia tetap bertahan.

Setiap  liburan Natal atau Paskah, ayah selalu menanyakan saya kapan pulang ke rumah untuk bergatian menjaga ibu sehingga ayah bisa mengikuti misa digereja pada saat perayaan-perayaan keagamanan kami karena pada hari minggu biasa, ayah jarang ke gereja karena harus mengurusi ibu. Pernah suatu sore saat ketika saya selesai membasuh tubuh ibu dan memakaikannya popok (bagi orang tua) dan baju, tiba-tiba ibu menggenggam kuat tangan (isyarat memanggil) saya ketika saya hendak memakaikanya baju, saya pun bertanya: “Ada apa mama?”, ibu pun memaksakan lidahnya untuk berbicara, dengan terbatah-batah ada sebuah kalimat menyentuh dan penuh makna yang berhasil saya tangkap.

Katanya: “Pakai deodorant, nanti bapak peluk tidak bau” (pakaikan saya deodorant, sehingga saya tidak bau ketika dipeluk bapak). Selesai memakaikan deodorant dan pakaian, saya pun termenung. Ternyata ayah saya tidak pernah melepaskan pelukkannya ketika tidur, sekalipun tulang-tulang ibu saya sudah kaku.

Saya pernah mendengar kisah dari beberapa kenalan ayah saya yang istri mereka juga mengalami penyakit yang sama, kebanyakan dari mereka ketika malam hari membiarkan istrinya tidur sendirian dikamar dan akibatnya istri mereka hanya mampu bertahan 4 tahun bahkan ada yang 2 tahun saja lalu meninggal. pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah pendampingan ayah saya ini adalah perhatian, kasih sayang dan pendampingannyalah yg menguatkan mama saya selain pengobatan-pengobatan luar yang kami berikan. 

Ketika yang lain malah meninggalkan istri mereka tidur sendiri saat sakit dan tak berdaya, ayah saya malah tetap tidur bersama ibu bahkan tetap memeluknya walaupun secarah batiniah ia tidak terlayani lagi. Ketika para suami lain mencari kebahagiaan diluar saat istrinya sakit, ayah saya malah membuat kolam ikan dibelakang rumah sebagai tempat ia menghabiskan waktu setelah memastikan ibu sudah bersih dan kenyang.

Bukan tentang sekhasiat dan secanggih apa pengobatan yang diberi, yang mampu membuat seorang bertahan atau makin menderita akibat sakitnya adalah perhatian dan kasih sayang dari orang-orang disekelilingnya. ini bukan tentang sembuh dan tidaknya ibu saya, namun ini tetang pelajaran dan kesiapan kami ketika benar-benar ditinggal olehnya.

Dan kisah ayah saya ini dalam mendampingi dan berjuang mempertahankan kesehatan ibu menjadi inspirasi bagi saya ketika mencari pasangan hidup saya. Bukan soal materi yang akan dia beri, bukan soal ketampanannya yang membanggakan saya, ini tentang pengertian dan waktu yang dia sediakan untuk saya ketika senang dan susah.

Cinta yang tak pernah lekang olah waktu dan keadaan adalah tiang kokoh dalam keluarga.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.


"Bagikan artikel ini dengan keluarga Anda"

Sosial Media

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Juara 1 Lomba Foto Ekspresi

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:20

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:19

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:18

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali