01 Feb 2017 01:00

#MahakaryaAyahIbu: ’’Sang Topi Bambu’’

keluarga kokoh

internet

SHARE:

Oleh: Hari Sumanto

 

Kicauan burung serta sunyi suasana pedesaan yang hampir satu tahun tak menghinggapi ku, kini kurasakan kembali, semenjak aku tinggalkan kampung halaman menuju kota. Sudah lama rasanya tangan tua dan tubuh lemah tak pernah kusentuh dan kupeluk, ia yang selalu mengenakan topi bambu guna pelindung panas terik matahari di ladang, yaa memang diriku tak pernah berkunjung lagi ke desa menemui ayah ibu. Bukan diriku tak rindu ayah ibu, bukan pula diriku ini seorang anak durhaka pada orang tuanya, namun kondisi ekonomi memaksa ku berbuat demikian.

***

Kembali kukenang suasana hampir setahun yang silam, disaat ayah ibu melepas kepergian anaknya untuk mencari ilmu. Diriku ini memang sangat ingin melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perkuliahan, berbagai usaha telah kulakukan agar bisa kuliah, hingga akhirnya semua jalur beasiswa tidak ada yang jebol satu pun. Hari itu tiada harapan lagi untuk ku, kekecewaan mendalam coba menghantui. Namun kehendak tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang menyertai hambanya yang memiliki keinginan kuat, yaa teman satu sekolah ku datang membawa kabar bahagia memberikanku amplop surat undangan kuliah di sebuah kampus dibawah kementerian perindustrian, namun bukan jalur beasiswa.

Aku menyembunyikan surat itu, agar ayah ibu tidak tahu bahwa diriku mendapat undangan kuliah, karena ini bukan jalur beasiswa dan sebagai anak tertua aku tidak ingin memberikan beban kepada ayah ibu, seharusnya akulah yang membantu mereka menyekolahkan adik dan memenuhi kebutuhan hidup.

Sepintar-pintar menyebunyikan bangkai, pastilah akan tercium jua baunya, aku rasa pepatah ini cocok untuk kondisiku saat itu. Surat yang ku sembunyikan ditemukan oleh adik ku dan diberi tahu ke ayah ibu. Singkat cerita akhirnya ayah dan ibu memaksa ku untuk melanjutkan pendidikan dengan menerima tawaran undangan tersebut.

***

Bujuk rayuan serta motivasi ayah ibulah yang membuatku berangkat melakukan pendaftaran ulang saat itu. Ibuku berkata “ nak jadilah anak yang nantinya mampu mambangkik batang nan tarandam (pepatah minang, artinya mengubah kondisi keluarga ke arah lebih baik)”, kemudian ayah juga berpesan, “sudahlah nak, pergi saja daftar kuliah itu, jangan engkau pikirkan soal uang yang ayah pinjam ke tetangga untuk uang pendaftaran kuliah mu, cukup ayah ibu mu saja yang tidak mengenyam bangku pendidikan, masalah biaya-biaya selanjutnya berusaha dan berdo’a saja, mudahan-mudahan tuhan maha kaya mengabulkan do’a kita, sehingga engkau bisa terus kuliah hingga wisuda.”

Dengan berat akhirnya hari itu ku langkahkan kaki, dengan bismillah mudahan-mudahan tuhan ridho dengan jalanku ini. Sepanjang hari selalu teringat pesan ayah ibu, bahwa selalu menjaga amal ibadah dimana pun. Ketahuilah nak, kata ayah kepada ku, tebarlah kebaikan dimanapun kamu berpijak, jika kau tanam kebaikan engkau akan petik kebaikan pula, tapi ingat keburukan yang kau tanam akan menghasilkan keburukan pula. Tak mungkin bukan engkau tanam padi berbuah jagung, nah begitulah perumpamaannya.

***

Ayah ibu adalah Motivasiku selalu giat belajar, mereka telah bekerja keras bermodalkan tenaga dan topi bambu lusuh, membiayai sekolah adikku dan kuliah ku, begitu besar pengorbanan mereka. Kuras tenaga, peras keringat demi kelanjutan pendidikan anaknya. Terkadang diriku malu, ia ayah ibu mampu menyekolahkan anaknya hingga kuliah, sedangkan ia sekolah dasar pun tak tuntas, bagaimana dengan diriku nanti?.

Ayah ibu saat ini masih tengah berjuang, do’akan anak mu agar sukses, agar diriku ini dapat berbuat lebih untuk membalas jasamu. Saat ini ku hanya bisa membahagiakan mu dengan hasil belajarku yang memuasakan dan menaati pesan-pesan yang pernah engkau sampaikan sebelum ku menimba ilmu di kota. Maafkan anak mu, saat ini itulah mahakarya yang baru mampu ku berikan.

Tapi, wahai ayah ibu ingin rasanya diriku ini memberimu kado pergi umrah ke tanah suci makkah serta makan bersama di restoran mewah, ingin rasanya ku ulang masa kecilku meminta suap, tapi kurasa giliranmu lebih pantas yang aku suapi, sebagai bukti rasa baktiku.

1. Suasana desa

Kicauan burung serta sunyi suasana pedesaan yang hampir satu tahun tak menghinggapi ku, kini kurasakan kembali, semenjak aku tinggalkan kampung halaman menuju kota. Sudah lama rasanya tangan tua dan tubuh lemah tak pernah kusentuh dan kupeluk, ia yang selalu mengenakan topi bambu guna pelindung panas terik matahari di ladang.

Ya, memang diriku tak pernah berkunjung lagi ke desa menemui ayah ibu. Bukan diriku tak rindu ayah ibu, bukan pula diriku ini seorang anak durhaka pada orang tuanya, namun kondisi ekonomi memaksa ku berbuat demikian.

2. Pendidikan butuh perjuangan

Kembali kukenang suasana hampir setahun yang silam, disaat ayah ibu melepas kepergian anaknya untuk mencari ilmu. Diriku ini memang sangat ingin melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perkuliahan, berbagai usaha telah kulakukan agar bisa kuliah, hingga akhirnya semua jalur beasiswa tidak ada yang jebol satu pun.

Hari itu tiada harapan lagi untuk ku, kekecewaan mendalam coba menghantui. Namun kehendak tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang menyertai hambanya yang memiliki keinginan kuat, yaa teman satu sekolah ku datang membawa kabar bahagia memberikanku amplop surat undangan kuliah di sebuah kampus dibawah kementerian perindustrian, namun bukan jalur beasiswa.

Aku menyembunyikan surat itu, agar ayah ibu tidak tahu bahwa diriku mendapat undangan kuliah, karena ini bukan jalur beasiswa dan sebagai anak tertua aku tidak ingin memberikan beban kepada ayah ibu, seharusnya akulah yang membantu mereka menyekolahkan adik dan memenuhi kebutuhan hidup.

Sepintar-pintar menyebunyikan bangkai, pastilah akan tercium jua baunya, aku rasa pepatah ini cocok untuk kondisiku saat itu. Surat yang ku sembunyikan ditemukan oleh adik ku dan diberi tahu ke ayah ibu. Singkat cerita akhirnya ayah dan ibu memaksa ku untuk melanjutkan pendidikan dengan menerima tawaran undangan tersebut.

3. Pesan dan motivasi ayah ibu

Bujuk rayuan serta motivasi ayah ibulah yang membuatku berangkat melakukan pendaftaran ulang saat itu. Ibuku berkata “ nak jadilah anak yang nantinya mampu mambangkik batang nan tarandam (pepatah minang, artinya mengubah kondisi keluarga ke arah lebih baik)”.

Kemudian ayah juga berpesan, “sudahlah nak, pergi saja daftar kuliah itu, jangan engkau pikirkan soal uang yang ayah pinjam ke tetangga untuk uang pendaftaran kuliah mu, cukup ayah ibu mu saja yang tidak mengenyam bangku pendidikan, masalah biaya-biaya selanjutnya berusaha dan berdo’a saja, mudahan-mudahan tuhan maha kaya mengabulkan do’a kita, sehingga engkau bisa terus kuliah hingga wisuda.”

Dengan berat akhirnya hari itu ku langkahkan kaki, dengan bismillah mudahan-mudahan tuhan ridho dengan jalanku ini. Sepanjang hari selalu teringat pesan ayah ibu, bahwa selalu menjaga amal ibadah dimana pun. Ketahuilah nak, kata ayah kepada ku, tebarlah kebaikan dimanapun kamu berpijak, jika kau tanam kebaikan engkau akan petik kebaikan pula, tapi ingat keburukan yang kau tanam akan menghasilkan keburukan pula. Tak mungkin bukan engkau tanam padi berbuah jagung, nah begitulah perumpamaannya.

***

Ayah ibu adalah Motivasiku selalu giat belajar, mereka telah bekerja keras bermodalkan tenaga dan topi bambu lusuh, membiayai sekolah adikku dan kuliah ku, begitu besar pengorbanan mereka. Kuras tenaga, peras keringat demi kelanjutan pendidikan anaknya. Terkadang diriku malu, ia ayah ibu mampu menyekolahkan anaknya hingga kuliah, sedangkan ia sekolah dasar pun tak tuntas, bagaimana dengan diriku nanti?.

4. Mahakarya untuk ayah ibu

Ayah ibu saat ini masih tengah berjuang, do’akan anak mu agar sukses, agar diriku ini dapat berbuat lebih untuk membalas jasamu. Saat ini kuhanya bisa membahagiakanmu dengan hasil belajarku yang memuasakan dan menaati pesan-pesan yang pernah engkau sampaikan sebelum ku menimba ilmu di kota. Maafkan anakmu, saat ini itulah mahakarya yang baru mampu kuberikan.

Tapi, wahai ayah ibu ingin rasanya diriku ini memberimu kado pergi umrah ke tanah suci makkah serta makan bersama di restoran mewah, ingin rasanya kuulang masa kecilku meminta suap, tapi kurasa giliranmu lebih pantas yang aku suapi, sebagai bukti rasa baktiku.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.


"Bagikan artikel ini dengan keluarga Anda"

Sosial Media

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Juara 1 Lomba Foto Ekspresi

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:20

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:19

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:18

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali