01 Feb 2017 00:00

#MahakaryaAyahIbu: Kenangan Itu Berwarna Biru

keluarga kokoh

Doc. Pribadi

SHARE:

Oleh: Nurhayati Pujiastuti

Batas Terakhir Pengumpulan Karya s/d HARI INI 31 Januari 2017! Ada tambahan 2 topik menarik yang bisa Anda pilih!

Menangkan total hadiah utama 1 paket wisata ke Singapura, perhiasan dari Frank & Co., jam tangan dari Alexandre Christie dan berbagai hadiah menarik lainnya serta storyline terbaik akan dijadikan ide cerita untuk video komersial Semen Gresik! Info lengkapnya lihat di sini.

_________________________________________________________________________

Apa warna kenangan? Kenangan itu biru warnanya. Seperti warna langit ketika sedang cerah. Seperti warna air laut ketika matahari sedang bersinar. Dan seperti warna kesukaan saya.

Kenangan itu biru.  Karena langit tak terbatas dan membuat setiap yang memandangnya berharap banyak. Maka saya pun seperti itu.

Pada Bapak, setiap kenangan adalah biru yang mengharu biru. Perjuangan lelaki kokoh yang menghembuskan napas di usia 85 tahun.  Lelaki yang membuat para dokter terkejut, karena ada penggumpalan darah menahun di dalam kepalanya. Seharusnya gumpalan darah itu membuat Bapak pikun atau stroke. Tapi Bapak tetap kuat ingatannya bahkan sampai beberapa hari sebelum tidur tidak bangun lagi.

Pada Ibu, kekuatannya untuk mendampingi seorang lelaki sesempurna Bapak adalah sesuatu #Mahakarya #Kokohtaktertandingi. 

Pada setiap malam, ketika Ibu mengenang kegagahan Bapak menjadi  pemimpin untuk  8 anak dan istrinya, mata Ibu selalu berbinar. Lalu meluncurlah banyak kalimat pujian untuk Bapak.

"Lelaki hebat” ujar Ibu.

Ya, seorang lelaki hebat. Yang 40 hari pertama ketika istrinya melahirkan, semua pakaian dicuci Bapak. Padahal Bapak pegawai di dua tempat dan menjadi andalan.

Delapan anaknya mengenal baca tulis dari Bapak. Diajarkan melalui banyak hal. Dari mulai kaset, buku bacaan sampai huruf-huruf abjad yang dipotong untuk mulai dieja. Ibu diberi ruang untuk belajar dengan mengikuti kursus menjahit seminggu tiga kali. Dan anak-anak bersama Bapak di rumah, setelah Bapak pulang kerja.

“Ibu yakin, tidak ada perempuan yang seenak Ibu rumah tangganya,” ujar Ibu pada suatu ketika.

Menghargai perempuan, itu yang ada di benak Bapak. Karena itu urusan menyetrika pakaian, tidak pernah diberikan kepada Ibu. Tugas Ibu hanya memasak, mengurus anak dan mencuci pakaian. Sisanya Bapak yang mengerjakan.

“Suamimu, tidak seperti Bapak, 'kan?” Saya tersenyum.

Ada banyak bahan perbandingan. Dulu pada awal pernikahan saya ingin suami bersikap seperti Bapak. Tapi kesadaran membuat saya semakin paham. Bahwa Bapak dan suami adalah sosok yang berbeda dengan latar belakang yang berbeda. Menerima keduanya apa adanya tanpa membandingkan, akan jauh lebih menyenangkan.

“Ibu susah kalau seperti ini,” ujar Ibu pada suatu hari.

Bukan, bukan karena Bapak berada di atas kursi roda, setelah dioperasi ven, dan diabetesnya membuat kakinya menjadi bengkak. Bapak masih melakukan banyak kegiatan. Ke kamar mandi pun tidak minta dibantu. Bapak memutar roda-roda kursinya dengan tangannya. Membuat  pegangan dan meletakkan kursi tempat Bapak berpindah dari satu kursi ke kursi lain, sehingga memudahkan Bapak untuk mandi.

"Jangan bantu Bapak," ujar Bapak. "Nanti Bapak tidak bisa mandiri tanpa kalian, padahal kalian sudah punya keluarga masing-masing,"

Bapak bahkan masih cinta menyetrika pakaian. Dan anak serta cucunya membiarkan itu jadi ruang membahagiakan buat Bapak. Karena Bapak akan merasa masih dibutuhkan. Sebulan sebelum kepergiannya dokter melarang Bapak menyetrika lagi, karena menyebabkan gula daranya meningkat naik.

“Ibu susah kenapa?” tanya saya.

“Ibu susah. Kalau lebaran seperti ini, ibu maunya masak ketupat. Tapi cuma Bapak yang bisa tahu ukurannya dan cara makai kompornya,” ujar Ibu, seperti menyesali lontong pesanan, yang tidak senikmat ketupat buatan Bapak.

Ada banyak pelajaran hidup dari Bapak dan Ibu. Ada banyak kenangan. Dan untuk mereka kenangan saya berwarna biru.  Kenangan itu terbentang sejauh mata memandang, dan menenangkan ketika diletakkan di lubuk hati paling dalam. Mereka adalah #Mahakarya yang  tidak ternilai untuk saya. Dan saya tahu, ini tongkat estafet untuk saya lanjutkan, pada anak-anak saya kelak. Sehingga mereka akan memiliki kenangan sama indahnya dengan yang saya miliki.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.


"Bagikan artikel ini dengan keluarga Anda"

Sosial Media

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Juara 1 Lomba Foto Ekspresi

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:20

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:19

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:18

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali