31 Jan 2017 23:30

#MahakaryaAyahIbu: Sket Wajah Pertama dan Terakhirku untuk Bapak

keluarga kokoh

Doc. Pribadi

SHARE:

Oleh: Anita Pamela

Batas Terakhir Pengumpulan Karya s/d HARI INI 31 Januari 2017! Ada tambahan 2 topik menarik yang bisa Anda pilih!

Menangkan total hadiah utama 1 paket wisata ke Singapura, perhiasan dari Frank & Co., jam tangan dari Alexandre Christie dan berbagai hadiah menarik lainnya serta storyline terbaik akan dijadikan ide cerita untuk video komersial Semen Gresik! Info lengkapnya lihat di sini.

_________________________________________________________________________

30 Desember 2016

Malam itu aku sedang mengetik naskah skripsiku. Sebagai mahasiswa semester akhir, aku harus merelakan waktu malam tahun baruanku dengan laptop. Aku bertekad. Pokoknya, liburan tahun baru aku ngebut skripsi. Ternyata, kegigihanku menulis skripsi saat itu harus di-pending. Tetangga menelpon, memberi kabar bahwa Bapak sakit dan aku harus segera pulang. Tumben, bukan Ibu atau Mbakku yang menelpon, pikirku.

Tanpa pikir panjang, aku menuju ke terminal Banyumanik. Selama perjalanan, aku hanya memikirkan Bapak. Empat puluh hari yang lalu, aku berpamitan pada beliau berangkat ke Semarang untuk menyelesaikan studiku. Bapak sehat. Bapak masih baik-baik saja. Malahan aku masih sempat membuat sket wajah Bapak. Selama empat setengah tahun kuliah Seni Rupa, itulah pertama kalinya kubuatkan "mahakarya" gambar sket wajah Bapak. Kami tertawa bersama saat itu. Bergurau di teras rumah, menikmati dinginnya Kota Wonosobo, negeri di atas awan.

“Tak perhatikan kok wajah Bapak sudah berlipat-lipat begitu, ya.” kataku menggoda Bapak.

“Lha iyo, Bapak sudah tua. Makanya, besok kalau sudah lulus kuliah, nggak usah kerja jauh-jauh ke Korea”. Begitu Bapak menasehatiku. Senyumnya penuh ketulusan.

“Kan mau ketemu oppa-oppa ganteng, Pak.” Aku masih ngeyel.

Kenangan-kenangan indah bersama Bapak terlintas di pikiranku seiring dengan melajunya suttle-bus malam itu.

Bapakku, lelaki sepuh yang selalu menyayangi anak-anaknya.

Bapakku, lelaki sepuh yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Bapakku, lelaki sepuh namun kokoh tak tertandingi.

Waktu kecilku, aku tak pernah mau berpisah dengan Bapak. Maunya digendong Bapak. Saking nggak mau pisahnya, ke kamar mandi pun Bapak aku ikuti. Sudah macam hantu saja aku ini. Aku follower-mu, Pak.

Setiap subuh, aku dan Ibu mengantar Bapak sampai ke depan gang. Aku digendong ibuku, sementara Bapak menaikkan kambing-kambing dagangannya ke atas mobil pick up sewaan. Tahun 1990-an belum ada Forum Jual Beli Online sehingga Bapakku menjajakan kambingnya ke pasar hewan. Siang harinya ketika pulang, Bapak tak lupa membawakanku  oleh-oleh, entah itu buah jeruk, ketan, maupun bakpao. Warbyasa, Pak. Enak.

Aku ingin segera bertemu Bapak. Sepanjang jalan kuberdo’a, mudah-mudahan sakit Bapak tidak parah. Komat-kamit sebisanya. Dari surat Al-Fatikhah sampai sholawat Nabi kuucapkan berulang-ulang.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sampai di rumah, ternyata Bapak sampun tindak. Ibuku memelukku, menangis sesenggukan.  Awkward moment. Yang ada dipikiranu saat itu, Bapak jahat. Bapak tega pergi nggak pamit sama aku. Maaf, Pak, Anita belum bisa membahagiakan Bapak. Skripsiku belum selesai, Pak.

Pak, seandainya dapat kuputar waktu, aku pasti akan rajin mengerjakan skripsi. Biar cepat selesai. Biar bisa kerja, mengumpulkan lembaran rupiah yang banyak lalu menukarnya dengan beberapa sak semen, untuk merenovasi rumah kita, Pak. Kata Bapak, "Biar rumah kami jelek begitu tetap harus bersyukur. Dulu Bapak susah payah mengumpulkan uang untuk melunasi rumah. Kamu belum lahir, jadi belum paham".

Pak, kepergian Bapak mengajarkan betapa Gusti Allah itu Maha Kuasa. Kita tak memiliki apa-apa. Ketika Bapak meninggal, bahkan badan Bapak saja ndak dibawa, to? Sesak, Pak. Sakitnya tuh dimana-mana, nggak cuma di sini. Kelak kita berjumpa lagi Pak. Semoga Allah Yang Maha Baik menghidangkan secangkir kopi hitam dan lintingan setiap pagi.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.


"Bagikan artikel ini dengan keluarga Anda"

Sosial Media

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Juara 1 Lomba Foto Ekspresi

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:20

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:19

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:18

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali