19 Jan 2017 19:00

#MahakaryaAyahIbu: Menengok Masa Lalu, Sebuah Ancangan

keluarga kokoh

www.issuu.com

SHARE:

Oleh: Aldiyudant Cikal

Kompetisi DIPERPANJANG s/d 31 Januari 2017 dan tambahan 2 topik menarik yang bisa Anda pilih!

Menangkan total hadiah utama 1 paket wisata ke Singapura, perhiasan dari Frank & Co., jam tangan dari Alexandre Christie dan berbagai hadiah menarik lainnya serta storyline terbaik akan dijadikan ide cerita untuk video komersial Semen Gresik! Info lengkapnya lihat di sini.

_________________________________________________________________________

Memutar Kembali Ingatan Anda pernah SMA? Pernah bengal? Cocok! Mari kita saling bercerita. Bukan untuk menyombongkan diri. Melainkan untuk saling belajar memperbaiki hidup. Orang bisa bertahan atau jatuh. Akan tetapi kehidupan bisa menjatuhkan kita berkali-kali, tapi selalu ada pilihan bangkit. Bangkit adalah gerbang mempersembahkan mahakarya terbaik untuk orang tua; apa* dan ibu.

Aku ingin memutar memori pada tahun-tahun itu. Aku ingin memperbaiki itu jika waktu bisa diputar kembali. Waktu itu ada seleksi tim olimpiade sains nasional di sekolah. Setiap kelas akan diambil dua orang untuk dibimbing selama satu tahun mengikuti olimpiade sains nasional. Siswa yang lolos seleksi berhak mewakili sekolah mengikuti setiap perlombaan yang berkaitan dengan sains. Jika berhasil meraih prestasi, tentu akan mendapatkan beasiswa.

Waktu tes seleksi tiba. Aku sempat pesimis karena harus bersaing dengan teman-teman dari kelas unggulan. Dengan persiapan yang seadanya kucoba mengerjakan soal yang diberikan. Setelah selesai dan yakin, jawaban dikumpulkan. Tinggal menunggu pengumuman selanjutnya dari sekolah. Saat pengumuman tiba, tak disangka namaku masuk menjadi tim olimpiade sains sekolah.

Kesempatan yang Terlewatkan Dimulailah pertemuan untuk persiapan olimpiade. Aku merasa bangga menjadi bagian dari tim itu. Semua anggotanya adalah juara kelas masing-masing. Ada yang semasa SMP pernah menjuarai olimpiade sains kabupaten. Ada yang juara karya tulis ilmiah tingkat provinsi. Ada yang juara matematika kota. Ada yang juara kimia. Sedangkan aku, cerdas cermat tingkat RT pun masih jadi juru kunci.

Pertemuan kedua dan selanjutnya baru mulai pemberian materi. Pemberian materi ini di luar jam pelajaran. Waktunya menjadi jam pelajaran tambahan. Entah kenapa semakin sering memeroleh pelajaran tambahan aku malah bosan. Aku merasa tidak punya teman karena setiap orang dalam tim sibuk membaca dan memahami materi sendiri-sendiri.

Waktu itu tawuran pelajar marak. Setiap sekolah saling bermusuhan. Tak peduli teman di rumah atau bahkan saudara. Kalau sudah memakai baju seragam beda sekolah berarti musuh. Siswa yang tidak tahu apa-apapun bisa jadi sasaran. Siswa yang “kurang bergaul”,”pustakawan”, “laboran” dipastikan tidak punya teman. Jika tidak punya teman berpotensi lebih mudah dibidik oleh siswa sekolah lain.

Di situlah aku galau. Gamang. Mau meneruskan belajar bersama tim atau keluar? Satu waktu aku dikeroyok pelajar dari sekolah lain. Untung masih selamat karena dibantu “teman-teman tongkrongan”. Akhirnya aku putuskan untuk keluar tim olimpiade, bergaul lebih sering dengan mereka. Olimpiade tinggal cerita. Beasiswa hanya angan yang tak nyata. Prestasi menjadi bayang-bayang semu saat aku di SMA. Aku melewatkan sebuah kesempatan berharga.

Menatap ke depan apa dan ibu juga kehilangan harapan. Kecewa. Mereka terluka hatinya. Kini, saat mengingat masa-masa itu aku hanya bisa termenung. Ibarat sedang mengemudi dan melakukan perjalanan, masa itu kini jadi kaca spion. Boleh dilihat untuk tetap waspada. Fokus tetap memandang ke depan untuk tujuan akhir perjalanan. Sebagai ganti kesenpatan yang terbuang itu, aku ingin membuat mahakarya di masa depan untuk kupersembahkan pada apa dan ibu. Dulu kubuang kesempatan mengharumkan nama sekolah, keluarga, bahkan mungkin negara. Membuang kesempatan berprestasi. Kini aku ingin berusaha agar tidak ada siswa yang melakukan hal yang sama.

Aku ingin membuat sekolah yang kokoh. Sebagai sebuah mahakarya untuk apa dan ibu. Ibu selalu bilang ingin mengajar di kelas. Di sekolah itu ibu boleh mengajar menjadi guru tamu. Guru kehormatan. Ayah pernah mengatakan ingin punya tempat sendiri di masa tua untuk fokus dengan bakat seninya sambil mengajarkannya. Aku ingin membuatkannya semacam bengkel seni dalam sekolah itu sehingga ayah menjadi gurunya. Kalau Rendra punya bengkel teater. Aku akan buatkan ayah bengkel kreatifitas. Melalui menengok masa lalu, aku serius berbuat hari ini, dan berancang-ancang mempersiapkan masa depan.  

*Apa = Sebutan ayah dalam Bahasa Sunda

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.


"Bagikan artikel ini dengan keluarga Anda"

Sosial Media

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Juara 1 Lomba Foto Ekspresi

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:20

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:19

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:18

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali