06 Jan 2017 19:00

#MahakaryaAyahIbu: Rumah Ayam Kesayangan Penyambung Kehidupan

keluarga kokoh

pixabay.com

SHARE:

Oleh: Dyah Ajeng Paramita

Kompetisi DIPERPANJANG s/d 31 Januari 2017 dan tambahan 2 topik menarik yang bisa Anda pilih!

Menangkan total hadiah utama 1 paket wisata ke Singapura, perhiasan dari Frank & Co., jam tangan dari Alexandre Christie dan berbagai hadiah menarik lainnya serta storyline terbaik akan dijadikan ide cerita untuk video komersial Semen Gresik! Info lengkapnya lihat di sini.

_________________________________________________________________________

Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Tepat pukul 06.00 WIB dimana aku dan adekku sedang bersiap-siap menuju sekolah. Dari arah belakang rumah terdengar suara “bruuuukkk..” seperti suara runtuhan bangunan akibat gempa. Namun pagi itu tidak terjadi gempa apapun. Suara itu terdegar dari belakang. Aku dan ibuku segera lari kebelakang rumah. Aku dan ibuku sudah bermuka pucat, khawatir jika ayah ada disana. Ada apakah gerangan?

Di belakang rumah adalah bangunan kandang ayam ayahku, sekitar 200 ayam dipelihara oleh ayahku di bangunan warisan nenek-kakek, sudah puluhan tahun bangunan itu. Rumah tempo lama yang disulap menjad rumah ayam, di mana menggunakan model kandang ayam bertingkat. Jam enam adalah jadwal ayam kampung ayahku sarapan setiap harinya. Dengan rutin ayahku memberi makan ayam kampung kami.

Ya,inilah ayahku berwiraswasta dengan beternak telur ayam kampung. Setiap hari kami makan dari hasil penjualan telur ayam kampung yang dihasilkan. Tentu saja, ayam kampung ini menjadi kesayangan keluarga kami yang menjadi sumber kehidupan kami.

Tanganku gemetar dan terperengga melihat bangunan itu rubuh 50% dari total bangunan. Terdengar suara ayam berteriak-teriak “petoook.. petook “. Aku semakin khawatir apakah ayahku baik-baik saja disana. Ibuku mulai panik mencari dimana ayahku. Aku pun ikut mencari. Aku dan ibuku mencari di segala sudut. Tiba-tiba dari belakang  terdengar suara pria, “Lagi pada nyari apa ? “

Aku berbalik arah. “Ayahhhh ..” kupeluk erat ayahku tak bisa ku bayangkan hal buruk yang akan terjadi apabila ayah ada didalam sana. Aku sangat bersyukur ayah ternyata baik-baik saja. Hari itu sepertinya Tuhan telah memberikan tanda kepada ayahku untuk jangan memberi makan ayam pada enam. Pagi itu entah kenapa ayahku memberi makan ayam jam lebih awal.

Akibat kejadian itu kerugian cukup banyak, karena banyak ayam yang mati tertimpa runtuhan bangunan. Tempat dimana ayam itu dipelihara pun tidak ada lagi. Namun dikarenakan dana yang terbatas, ayahku membuat rumah bagi ayam itu dari anyaman bambu dan pondasi seadanya di lahan yang berbeda. Padahal sebelumnya adalah rumah dari batu bata tapi memang sudah tua bangunnya. Rumah untuk ayam-ayam kampung kami dari anyaman inilah yang menjadi rumah ayam itu bertelur.

Dari hasil itulah aku bisa berkuliah hingga sekarang, dan tahun ini adalah tahun terakhirku dimana aku akan lulus dan mendapatkan gelarku. Berjam-jam ayah habiskan dalam kandang ayam yang kami sebut rumah ayam ini yang sederhana dari anyaman bambu berisikan kurang lebih 200 ayam. Di mana tak dapat melindungi ayah dari hujan, dan tak dapat melindungi ayah dari teriknya sinar matahari.

Namun aku bertekad, “Ayah jika aku sukses nanti akan kupersembahkan mahakaryaku rumah kokoh tak tertandingi untuk rumah ayam kesayangan kita”. Agar ayah dapat beternak dengan nyaman dan menyambung kehidupan keluarga menjadi lebih baik.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.


"Bagikan artikel ini dengan keluarga Anda"

Sosial Media

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Juara 1 Lomba Foto Ekspresi

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:20

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:19

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:18

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali