23 Agu 2016 19:00

Investasi Nurani, Ketika Uang Sudah Tak Lagi Dibutuhkan Bangsa Ini!

keluarga kokoh

Sumber Gambar: kawankumagz.com

SHARE:

Tulisan Dari: Klaudius Rosario Marianto Wawo

 

Rintik hujan menghiasi kota Jakarta, dari balik kaca sebuah mobil mewah aku melihat gedung-gedung menjulang tinggi di sepanjang jalan Sudirman. Ratusan triliyun uang berputar pada roda investasi. Bebearpa orang berjalan percaya diri dengan balutan kemeja sutra, dan beberapa lainnya duduk termenung menanti peruntungan.

Sumber Gambar: smeaker.com

Sebuah patung seorang jenderal perang tangguh runtuh digantikan logo sebuah perusahaan, sekelompok veteran perang beserta keluarganya menikmati pertunjukan dengan air mata deras mengalir. Dering telepon genggam mengaganggu pengamatanku, memberitahu bahwa logo perusahaanku sudah terpasang gagah menggantikan patung sang jenderal perang itu.

Sejenak aku terdiam membisu, bulu kudukku berdiri, serta badanku bergetar merinding.

Pikirku tidak lagi sehat, sudah dua kilometer mobilku melaju menjauh dari pertunjukan sadis itu, namun suara rintihan, tangisan veteran perang masih jelas terdengar. Lalu kucoba menutup mata berharap ini hanya sebuah mimpi, ya aku hanya bermimpi.

Sumber Gambar: s2.photobucket.com

Memang sedikit kecewa kurasa, semua tadi hanya mimpi.

Rasa nyaman tempat duduk mobil mewah masih terasa hingga kuputuskan pergi meninggalkan rumah. Akulah sang penulis lepas, si fakir kerja dan pemimpi paruh waktu. Pada sebuah kedai kopi hendak ku lanjutkan karya tulis urakanku. Secangkir kopi membawaku pada lamunan tentang masa lalu. Dalam ruang kelas 4-A seluruh siswa dilempar pertanyaan seperti apa masa depan yang kami inginkan. Kepolosan murid sekolah dasar menghasilkan berbagai jawaban yang muluk, dari ingin menjadi guru hingga menjadi astronaut para murid menjawab. Aku bingung ingin menjawab apa, kondisi rumah yang menurutku tidak layak dan perut yang hanya diisi satu kali dalam sehari, menghasutku menjawab ingin menjadi orang terkaya di Indonesia. Tak jarang saat itu aku mendapat bantuan dari guruku, Anton Mulyono, mulai dari seragam, buku pelajaran, hingga uang jajan sehingga dapat kupenuhi perutku.

 

Setahun lalu kudengar kabar pahlawanku itu telah tiada, dipanggil menghadap Sang Pencipta pada umur 68 tahun. Kecewa aku belum sempat membalas kebaikannya. Dengan sekotak kue basah dan sekardus air mineral kemasan, ku sambangi kediamannya pada hari ke tujuh. Air mataku menetes, kudapati rumahnya yang tidak lebih baik dari rumahku dahulu. Tiada kursi plastik apalagi sofa, hanya beberapa lembar tikar rajut untuk para tamu yang hadir.

Sumber Gambar: 2.bp.blogspot.com

Sambil ku seruput kopi hitam, kusadari pahlawanku itu memang jauh dari kekayaan duniawi, namun dekat sangat dengan kekayaan surgawi. Entah berapa orang sepertiku yang berhutang padanya. Aku ingin seperti pahlawanku itu, orang yang sangat kaya raya, kaya jiwa dengan hati yang dipenuhi cinta kasih, hati yang penuh toleransi, dan hati yang penuh rasa empati terhadap sesama. Beliau kini telah pergi mengisi rumah mewahnya di Surga, meninggalkanku tanggung jawab atas jawaban perihal cita-citaku ingin menjadi orang terkaya.

 

Terlalu naif untuk aku mengatakan tidak ingin menjadi orang yang kaya harta duniawi.

Namun sangat ku yakini Negeri tercinta ini kini lebih membutuhhkan orang yang kaya akan hati nurani.

 

Jelas sudah, tidak cukup kaya harta duniawi untuk mendapat gelar orang terkaya, tetapi juga harus dilengkapi dengan kaya hati nurani. Sejenak kupejamkan mata, berbicara dalam hati meminta restu pada pahlawanku, serta kupanjatkan doa pada Tuhanku sehingga aku dapat setia pada cita-citaku. Aku yakini masih banyak sekali orang-orang yang kondisinya lebih buruk dari diriku yang dahulu.

Sumber Gambar: muslim.or.id

Jika aku menjadi orang terkaya di Indonesia… 

Aku ingin menginvestasikan uang beserta hatiku pada bisnis cinta kasih kepada sesama, mendirikan sebuah yayasan untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan finansial dan motivasional, sehingga secara tak langsung aku turut membangun negeri yang tangguh seperti batu karang berlapis baja yang kokoh tak tertandingi!

 

Lagi pula pada dasarnya negara ini layaknya keluarga besar dengan kondisi anggotanya yang berbeda-beda, dan setiap anggota keluarga seharusnya saling membantu sehingga menjadikan keluarga kokoh tak tergoyahkan. Dengan begitu pahlawan-pahlawanku dapat tersenyum bangga menitipkan dan mempercayakan kemerdekaan negeri kaya raya ini secara cuma-cuma kepadaku untuk dikokohkan kembali.


"Bagikan artikel ini dengan keluarga Anda"

Sosial Media

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Juara 1 Lomba Foto Ekspresi

keluarga kokoh
23 November 2016 08:30

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:20

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:19

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali

23 November 2016 08:18

Pemenang Lomba Foto Ekspresi Wisata Ke Bali